RSS

SEJARAH KOSGORO

LATAR BELAKANG

  A. Perang Dunia II

  1. Perkembangan KOSGORO 1957 tak dapat dipisahkan dari perkembangan bangsa Indonesia. Karena Sejarah KOSGORO 1957, merupakan bagian dari perkembangan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Dan Sejarah Perjuangan bangsa tak dapat dipisahkan dari Pergolakan dan Perkembangan Dunia Internasional. Sejarah mencatat, beberapa abad sebelum pecah Perang Dunia II, hampir seluruh Asia, Timur Tengah, Afrika dan Pasifik berada dibawah kekuasaan Negara-negara Imprialis Barat, terutama Inggris, Prancis,Belgia dan Belanda
  2. Secara bertahap berkembang berbagai negara industri maju yang menguasai teknologi, terutama teknologi perang. Perbedaan atas berbagai kepentingan, kompetisi dominasi dan berbagai permasalahan, memacu perseteruan antar bangsa, yang menjurus pada konflik militer global yang terjadi pada 1 September 1939 sampai 2 September 1945 yang melibatkan sebagian besar negara di dunia, termasuk semua kekuatan-kekuatan besar
  3. Dunia terbagi dalam dua aliansi militer yang berlawanan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan lebih dari 100 juta personil. Dalam keadaan “perang total,” pihak yang terlibat mengerahkan seluruh bidang ekonomi, industri, dan kemampuan ilmiah untuk melayani usaha perang, menghapus perbedaan antara sipil dan sumber-sumber militer. Lebih dari tujuh puluh juta orang, mayoritas warga sipil, tewas. Hal ini menjadikan Perang Dunia II sebagai konflik paling mematikan dalam sejarah manusia.
  4. Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai saat Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. Secara resmi PD II berakhir ketika Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal  USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, 6 tahun setelah perang dimulai.
  5. Dua negara yang sangat menonjol pernanannya dalam Perang Dunia II, yakni Jerman dibawah pimpinan Diktator Adolf Hitler dan Jepang dibawah pimpinan Kaisar Hirohito mengembangkan diri sebagai negara Industri Maju dengan membangun mesin perang secara besar-besaran. Jerman mengembangkan pemikiran Karl Haushorfer yang pada masa itu mewarnai geopolitik Nazi Jerman di bawah pimpinan Adolf Hittler. Pemikiran Haushorfer di samping berisi paham ekspansionisme juga mengandung ajaran rasialisme, yang menyatakan bahwa ras Jerman adalah ras paling unggul yang harus dapat menguasai dunia.  Pandangan semacam ini juga di dunia berkembang di Jepang berupa ajaran Hako Ichiu yang dilandasi oleh semangat militerisme dan fasisme. Semangat inilah yang memacu perang dunia kedua yang menelan banyak korban. Sukses dibidang industri, mengarah pada Industri Perang secara besar-besaran.
  6. Jepang dengan kekuatan Darat, Laut dan Udara bergerak menguasai hampir seluruh wilayah jajahan di Asia dan Pasific, dengan melucuti Tentara Kolonial Barat. Dalam tiap pertempuran, di wilayah Asia Timur, Jepang meraih kemenangan. Sehingga, disebutkan Balatentara Dai Nippon, berjaya dalam Perang Asia Timur Raya. Untuk menunjukkan kekuatannya, Angkatan Udara Jepang membombardir Pearl Harbour di Honolulu Hawai, sebagai Pangkalan Angkatan Laut Terbesar Amerika Serikat di Pasific. Peristiwa itu terjadi, pada subuh 7 Desember 1941. Tercatat, ratusan Kapal Perang, ratusan Pesawat Tempur, ribuan bangunan hancur lebur. Manusia yang jadi korban tercatat 2.405 orang.

 B. Balatentara Dai Nippon di Nusantara

  1. Tahun 1942, Balatentara Dai Nippon, mendarat di pantai-pantai Nusantara, melucuti Tentara Kolonial Belanda, menguasai seluruh Nusantara dan menghembuskan pengertian sebagai Saudara Tua Indonesia.
  2. Perang di Eropa, mendorong pihak Barat untuk membentuk Kekuatan Sekutu, yang di motori oleh Amerika, Inggris, Prancis dan Rusia. Kekuatan Sekutu ini kemudian berhadapan dengan Tentara Jerman dan Tentara Italia, baik di fron Eropa, Timur Tengah maupun Afrika.
  3. Serbuan Tentara Nazi Jerman ke arah timur, mendapat perlawanan Tentara Rusia. Di Eropah Barat, tentara sekutu mempersiapkan Invasi Normandia. Sejak 6 Juni hingga 25 Agustus 1944, Tentara Sekutu bertempur di sepanjang pantai Normandia dan meraih kemenangan dengan memburu dan menghancurkan Tentara Nazi Jerman. Tentara Sekutu dipimpin oleh Jenderal Eisenhower dari Amerika dan Jenderal Montegomery dari Britania Raya.
  4. Keberhasilan Sekutu melumpuhkan kekuatan Poros di Eropa yakni Jerman dan Italia di Eropa, Timur Tengah dan Afrika mendorong Amerika untuk segera mengakhiri Perang di Asia dan Pasific. Untuk itu Amerika menjatuhkan Bom Atom pada tanggal 6 Agustus 1945 di kota Hirosima dan tanggal 8 Agustus 1945 di kota Nagasaki. Jutaan manusia mati bagai debu di kedua kota Jepang itu.
  5. Dengan nada pilu, medio Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan seluruh Balatentara Dai Nippon menyerah kepada Sekutu, diseluruh front pertempuran terutama di Asia Timur dan Asia Tenggara.
  6. Di Indonesia, kekalahan Jepang ditandai dengan berlangsungnya penyerahan kekuasaan kepada Pemerintah Kolonial Belanda bersama Pasukan Sekutu, dimanfaatkan Pemuda-pemuda Indonesia untuk merampas persenjataan Tentara Jepang, yang menyerahkan diri.
  7. Berada dibawah tekanan pengusasa Jepang selama 3,5 tahun terasa sangat menyakitkan. Sehingga, di banyak tempat terjadi pertempuran, kerusuhan dan penjarahan, oleh Orang-orang Indonesia terhadap fasilitas dan logistik Tentara Dai Nippon.

INDONESIA MERDEKA

   A. Proklamasi Kemerdekaan

  1. Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, dimanfaatkan oleh Para Penguasa Jepang di Indonesia untuk memproses Kemerdekaan Indonesia, melalui kerjasama dengan para tokoh Pergerakan Indonesia Merdeka.
  2. Kerjasama antara para tokoh Indonesia dengan Penguasa Jepang, meresahkan para pemuda pejuang Indonesia. Sehingga, pada tanggal 16 Agustus 1945 malam hari, Bung Karno dan Bung Hatta di culik para Pemuda Pejuang dan dibawa ke Rengasdengklok untuk membuat Naskah Proklamasi.  Para Pemuda Pejuang ini antara lain : Chairul Saleh, Sukarni, Wikana, Kasman Singodimejo, DN Aidit, dll.
  3. Pada Hari Jumat, 17 Agustus 1945, dalam bulan Romadhon,  di halaman rumah kediaman Bung Karno Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Gedung Pola) Jakarta, Bung Karno didampingi Bung Hatta memproklamirkan Indonesia Merdeka dihadapan ratusan  para tokoh dan para pemuda pejuang kemerdekaan.
  4. Untuk meyakinkan dukungan rakyat, berlangsung Rapat Umum Ikada, pada tanggal 19 September 1945, yang di hadiri oleh ribuan rakyat Jakarta mendengarkan amanat Bung Karno di bawah todongan bayonet Tentara Jepang.
  5. Kumandang Proklamasi Kemerdekaan, menyebar keseluruh tanah air yang disambut dengan gegap-gempita oleh seluruh Rakyat Indonesia, yang ditandai dengan tindakan-tindakan balasdendam para Pemuda Indonesia terhadap Balatentara Dai Nippon.

 B. Tentara Sekutu di Indonesia

  1. Pada sisi yang lain, Sekutu menugaskan kepada Tentara Inggris dibantu oleh Tentara Australia untuk mengambil-alih kekuasaan di Indonesia. Bersama Tentara Inggris juga mengikut-sertakan Tentara Australia, Tentara Gurkha, tentara India dan tentara Pakistan.
  2. Kehadiran Tentara Sekutu sebagai penguasa baru, menjadi masalah besar karena kehadirannya tidak di terima dan dianggap sebagai “Penjajah Baru”. Sehingga dibanyak tempat terjadi pertempuran antara Tentara Sekutu dengan Para Pemuda Indonesia. Kota Surabaya, yang menjadi sasaran penguasaan Tentara Sekutu. Para Pemuda Surabaya, dengan senjata rampasan dari Tentara Jepang dan Senjata apa adanya berperang dengan Tentara Sekutu.
  3. Dikota ini terbentuk satuan-satuan kekuatan antara lain : BKR (Barisan Keamanan Rakyat) pimpinan Kol. Sungkono, Barisan Pemberontak Indonesia pimpinan Bung Tomo, Pasukan Tentara Pelajar TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) JAWA TIMUR pimpinan Mas Isman, Pemuda Pesindo dan lain-lain.
  4. Terjadi Perang Delapan Belas Hari, yang melibatkan seluruh kekuatan di kota Surabaya, dalam salah satu pertempuran Panglima Tentara Sekutu di Surabaya Brigadir Jenderal Malaby terbunuh. Pertempuran yang berakhir tanggal 10 Nopember 1945 kemudian disahkan sebagai Hari Pahlawan.

KOSGORO TERBENTUK

   A. Prakarsa 33 Pejoang

  1. Pada tahun 1957 itu, sebahagian besar, terutama para Pimpinan TRIP Jawa Timur, telah berada di Jakarta dan menempati posisi-posisi yang baik, baik di lingkungan Pemerintahan, di lingkungan Angkatan Bersenjata Bersenjata (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian), dilingkungan Diplomatik, maupun di lingkungan Dunia Usaha.
  2. Tanggal 10 Nopember 1957 itu, berlangsung Peringatan 12 Tahun Hari Pahlawan di Istana Merdeka. Sekembali mereka dari peringatan itu para Anggota TRIP Jawa Timur yang sudah berada di berbagai posisi, berkumpul di rumah kediaman Mas Isman di Jalan Sabang Jakarta, untuk membahas perkembangan kebangsaan dan kenegaraan. Diskusi singkat itu menghasilkan kesepakatan, mendirikan koperasi dengan keanggotaan para anggota TRIP Jawa Timur yang ada.
  3. Dengan begitu, KOSGORO didirikan pada tanggal 10 Nopember 1957, di Jakarta oleh 33 (tigapuluhtiga) Pejuang Kemerdekaan yang tergabung dalam TRIP JAWA TIMUR Pimpinan Mas Isman, yang pada awalnya sebagai Koperasi Simpanpinjam Gotong Royong, yang kemudian berubah menjadi Koperasi Serbausaha Gotong Royong.
  4. Menurut catatan sejarah, ke 33 (tigapuluhtiga) Pejuang Anggota TRIP Jawa Timur yang turut menandatangani Pembentukan KOSGORO itu terdiri dari : Ir. A. O. Wijarso, Abdullah Kusrin, Arie Arismunandar, Drs. Bambang Sentanu, Dicky Mudhanu, Drs. Gempa Suyono, Hasan Hafid Saleh, Drs. Hutomo Said Hidayat, Drs. Imam Sukardjo, Yubiadi Partodirdjo, S. Kasnowidjojo, Mas Isman, Putranto, Prio Sanyoto, Rudy Lamingat, Bendol Edardono, Susilo, Sukarman, Subiyakto, SH, MW. Soedarto (Darto Perang), Sukamto Sayidiman, Bebek Sudianto, Dr. Sardjito, Sutopo Sri Sadono, Tamun Widjajadi, Warsono, Suwarso (Waritjo), Kustur PSY, Dr. Warno Supono, Drs. Sudjoko, Drs. Pongky Supangkat. Sulman Sandjojo dan Sujono DK (Djoko Dingklik).

Dalam kesempatan itu juga hadir Anggoro Widjojo (Om Ang) seorang pengusaha pejuang dari Malang, teman karib Mas Isman dan AKBP Ariesmunandar yang bertindak sebagai Notulis Pertemuan.

Makna Kelahiran

Pendirian KOSGORO pada dasarnya merupakan upaya politik Para Pejuang Kemerdekaan untuk menguji krenteg (tekad) para pejoang kemerdekaan dalam dua bidang pengabdian, yakni

(1).    Pengabdian untuk memerdekakan bangsa dari segala bentukpenjajahan.

(2).    Pengabdian untuk merngangkat derajat bangsa yang selama350 tahun merana sebagai bangsa terjajah.

Dengan demikian, makna kelahiran KOSGORO adalah :

  1. Untuk MENGUJI TEKAD (krenteg) pemuda-pemuda pejoang 1945 guna dalam kondisi-kondisi baru yang lebih rumit tetap mengemban cita-cita dan nilai-nilai 1945 yang per nah mempersatukan serta menggelorakan bangsa. Dengan demikian maka dikandung harapan agar para pemuda pejo­ang disatu fihak sanggup memberi makna dan isi pada ke-merdekaan, dan dilain fihak mampu menjunjung kesinambungan perjoangan bangsa serta kehidupan bangsa.
  2. Untuk mengajak pemuda-pemuda pejoang 1945 agar terus mengembangkan JIWA PERINTIS DAN DAYA-JUANGNYA dalam me-dan pengabdian baru, oleh karena rakyat dalam banyak segi kehidupan masih memerlukan perintisan guna meningkatkan harkat dan martabatnya serta mengangkat tingkat kehidupannya. Secara pokoknya ini berarti mengembangkan jiwa perintis dan daya juang guna mewujudkan Amanat Penderitaan Rakyat.
  3. Untuk menghimbau para pemuda pejoang 1945 supaya tetap memelihara tradisinya yang paling berharga, yaitu semangat dan kemampuan untuk BERDIRI DIATAS KAKI SENDIRI.Disinilah letak makna pokok dari kelahiran KOSGORO beserta perkembangannya kemudian. Dan disini pulalah letak landasan keabsahan bagi kehadiran KOSGORO dalam arena kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kesemuanya ini dituangkan secara azasi dalam doktrin yang bernama TRIDHARMA KOSGORO yang akan dibentangkan nanti, yang pada hakekatnya merupakan doktrin pengabdian.

Sikap Dasar Kebangsan

  1. Bertolak dari hasrat pengabdian kepada segenap bangsa serta Rakyat Indonesia dalam keseluruhannya dan sadar akan pentingnya kesinambungan tradisi perjoangan bangsa serta persatuan bangsa, maka KOSGORO tidak menkhaskan diri dengan menampilkan ideologi tertentu, namun tetap menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
  2. Sikap dan ketetapan hati pada Pendiri KOSGORO untuk tidak mengenal atau mempergunakan ideology lain selain ideology Pancasila, menunjukkan sikap kebangsaan utuh yang teguh dari para mantan pejuang ini, terhadap bangsa, Negara dan tanah air. Pancasila yang digali dari kepribadian bangsa, yang lahir mengawali lahirnya republic, mencerminkan watak dan kepribadian bangsa Indonesia.Sehingga tak ada pilihan lain, selain Pancasila menjadi dasar dan keabsahan hidup KOSGORO. Sikap kebangsaan ini yang cinta tanah menjadi watak KOSGORO
  3. Undang Undang Dasar 1945 yang merupakan landasan structural kehidupan kenegaraan yang tak terpisahkan dari Pancasila, merupakan juga landasan structural kehidupan KOSGORO, sebagai organisasi pejuang dan organisasi perjuangan, yang lahir dimasa perjuangan bangsa itu. Dengan dasar itu, maka KOSGORO menjadi organisasi massa yang tak akan pernah terpengaruh oleh tindakan-tindakan yang mengesampingkan persatuan dan kesatuan bangsa, dengan rasa kebangsaan yang kental. Dalam kegiatannya, Koperasi KOSGORO memilih kegiatan-kegiatan kecil yang bermanfaat langsung bagi kepentingan anggota dan rakyat pedesaan.

Pertumbuhan

  1. KOSGORO, bertekad untuk memanifestasikan jiwa perintisnya dalam karya-karya kecil yang nyata dan yang majifaatnya langsung terasa oleh rakyat. Maknanya ialah untuk mentransformasikan heroisme perjoangan para pemuda menjadi PENGABDIAN NYATA yang sunyi pamrih pribadi dalam mengangkat tingkat hidup rakyat, tanpa membatalkan hakekat dari heroisme perjoangan itu.
  2. Melihat situasi dan kondisi masyarakat saat itu maka diputuskan untuk:a). Memilih koperasi sebagai wahana perjoangan dan pengabdi­an. Ini selain karena liwat koperasi bisa dihasilkan karya-karya yang nyata, juga karena koperasi bisa meru­pakan wahana pemersatu dengan mengembangkan khasanah warisan budaya bangsa, yakni azas dan metode gotong royong.

                a).  Koperasi hanya berbicara dan berbuat untuk kesejahteraan

                b).  Koperasi juga tidak mengenal ideologi lain selain Panacasila dan tidak mengenal landasan lain selain Undang Undang Dasar 1945.

                c).  Koperasi tidak berpolitik dan terpengaruh partai politik. sehingga KOSGORO  menjadi naungan para pejuang kemerdekaan yang tidak krasan di partai-partai politik dan tidak suka melihat pertikaian dan perseteruan antar partai politik.

Karya-karya kecil yang langsung bermanfaat

Berkat dedikasi anggotanya yang mampu mengembangkan jiwa perintis dalain menangani seribu satu masalah kecil, maka KOSGORO dalam waktu yang relatif singkat berhasil meraih simpati masyarakat luas, khususnya rakyat kecil, sehingga menjadi tersebar disegenap penjuru tanah air. Ini karena KOSGORO memusatkan diri pada karya-karya nyata yang kecil namun langsung bermanfaat bagi rakyat.

Perkembangan tersebut di mungkinkan karena KOSGORO semenjak mengayunkan langkah pertamanya selalu diresapi oleh Sambung Jiwa, Sambung Rasa dan Sambung Nalar dengan Rakyat. Ini tercermin dari semboyan yang di junjung tinggi oleh para anggota dalam mengembangkan kegiatannya dengan semboyan : KEMBALI KE DESA. Yang makna pokoknya ilah agar berorientasi pada Rakyat Kecil.

Dalam pengembangannya, KOSGORO selama periode 1957-1970, berhasil mencapai berbagai prestasi, antara lain dibidang Industri RumahTangga (Home Industry), Produksi Kebutuhan Masyarakat seperti : Rokok, Tahu, Tempe, Kecap dll., Industri Besar & Perkebunan Besar, Simpan Pinjam, Permodalan dan Perbankan dan bidang-bidang lainnya.

Organisasi Koperasi KOSGORO telah terbentuk dan teeorganisir secara baik. Primer koperasi terbentuk dalam jumlah ratusan, Pusat Koperasi terbentuk di beberapa provinsi dan Induk Koperasi terbentuk di Jakarta. Dalam sejarah perkoperasian nasional, Koperasi KOSGORO merupakan salah satu koperasi masyarakat yang sangat menonjol.

Namun kemudian lahir Undang Undang Perkoperasian (tahun 1968), yang tidak membenarkan koperesi mempernakan nama organisasi massa (Ormas atau Partai Politik). Dengan peraturan itu, koperasi-koperasi KOSGORO merubah namanya dengan nama lain dan dengan demikian Induk Koperasi KOSGORO membubarkan diri. Unit-unit Simpan Pinjam Koperasi KOGORO di JawaTengah dan Jawa Timur, merubah dirinya menjadi Bank Perkreditan Rakyat dalan bentuk PT (Perseroan Terbatas) dengan mempergunakan nama-nama gunung berapi, seperti BPR Gunung Semeru, BPR Gunung Merapi dan lain lain yang hingga kini masih eksis.Membuka Diri

Setelah KOSGORO membuktikan diri memiliki hak hidup dalam waktu yang singkat itu, maka KOSGORO mulai tahun 1962, membuka dirinya bagi semua putera Indonesia, tanpa memandang status sosial, keturunan, jenis kelamin, usia dan agamanya.

Hampir seluruh satuan Tentara Pelajar (TP) dari Seluruh Wilayah Tanah Air bergabung dalam KOSGORO, seperti Tentara Pelajar Sumatera Utara, Tentara Pelajar Solo, Tentara Pelajar Yogya, Tentara Pelajar Siliwangi, Tentara Pelajar Banyumas, dan lain-lain. Lebih daripada itu, potensi di luar Ex Tentara Pelajar juga bergabung dalam KOSGORO.

Pada saat itu muncul nama-nama tokoh Tentara Pelajar seperti Yasin Limpo dari Sulawesi Selatan, Martono dan Wahyu Widodo dari Jawa Tengah, Osman Simanjuntak dari Sumatera Utara, HM. Aseni dan H. Achmadi dari DKI Jakarta/Siliwangi, Yahya Bachram dari Lampung dan lain lain. Dengan demikian, maka KOSGORO terbentuk dan tersebar hampir diseluruh Indonesia.

Terancam Pembubaran

Kepesatan perkembangan KOSGORO sebagai Gerakan Koperasi yang sangat menonjol bahkan turut ambil bagian dalam masalah-masalah politik nasional, yang mendorong Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada saat itu menguasai per-politik-an nasional, melancarkan intik dan isu, yang dikembangkan melalui Istana Kepresidenan. Dikembangkan, bahwa KOSGORO adalah Agen CIA. Itu sebabnya, MW. Soedarto yang aat itu berpangkat Kolonel dan menjadi Ajudan Presiden Soekarno, dipanggil dan diinterogasi tentang kebenaran isu itu. Tapi dengan tegas Soedarto membantah dan berbalik menuntut bukti-bukti keterlibatan KOSGORO dengan CIA, yang tak mampu dibuktikan. Sejak itu, KOSGORO dapat berkembang dengan hak hidup yang tidak terganggu oleh intrik politik.

Organisasi Majemuk

Kehadiran berbagai unsure Tentara Pelajar dan Kalangan Lain, telah membuat Rumah KOSGORO menjadi sangat besar. Hal itu mendorong organisasi ini untuk memilah keunsuran itu, sesuai fungsi, profesi dan kemampuan khusus dalam bentuk Gerakan, Badan dan Lembaga. Sehingga, KOSGORO menjadi Organisasi yang Majemuk.

Oleh karenanya, di Sekber Golkar KOSGORO mrupakan salah satu Kino (Kelompok Induk Organisasi, yakni kumpulan dari berbagai organisasi fungsional dan profesi seperti : Sarjana, Mahasiswa, Pemud, Wanita, Pelajar, Pelaut, Pekerja/Buruh, Tani, Nelayan dan lain lain.

Gerakan Massa

  1. Kudeta Berdarah, 30 September 1965 oleh  G.30.S/PKI, membuat kekuatan nasional bersatu dan turut ambil bagian dalam penumpasan sisa-sisa kekuatan Komunis di seluruh tanah air. Sehingga, mau tak mau terjadi perubahan politik nasional.
  2. Perubahan politik tahun 1965/1966 itu, menempatkan Sekber Golkar (yang dianggap dekat dengan Angkatan Darat) sebagai salah satu kekuatan nasioal yang diharapkan dapat mengambil peranan dalam politik nasional. Hal itu pula yang mendorong para pimpinan KOSGORO untuk menentukan sikap yang lebih tegas, untuk memperkuat Kekuatan Nasional lain dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  3. Dalam perubahan politik tahun 1965/1966 itu, Kino-kino anggota Sekber Golkar juga mengalami pasang surut. Yang kemudian berkembang dengan caranya sendiri-sendiri. Dari ketujuh Kino yang ada, hanya KOSGORO, SOKSI dan MKGR yang terus mengembangkan dirinya sesuai dengan gagasan awal kelahirannya dan tetap berada dibawah koordinasi Sekber Golkar.
  4. KOSGORO mengembangkan dirinya dalam bidang social ekonomi, khususnya koperasi dan perekonomian rakyat, SOKSI menmgembangkan dirinya dengan melanjutkan pembinaan gerakan pekerja (buruh) dan karyawan, sedangkan MKGR melanjutkan kegiatannaya bidang Dakwah Islam. Kendatipun begitu, sesuai iklim politik dan tuntutan perjuangan bangsa, ketiga KINO ini kemudian berkembang dalam berbagai bentuk kegiatan, sebagaimana partai-partai politik yang ada saat itu.
  5. Sadar akan tuntutan perjuangan bangsa kedepan, KOSGORO kemuidian men-deklarasi-kan dirinya sebagai Organisasi Kemasyarakatan terhitung sejak 11 Maret 1966, melalui Musyawarah Besar I KOSGORO tahun 1966 di Semarang.
  6. Sejak itu, KOSGORO tidak hanya sebagai gerakan koperasi saja, tapi juga sebagai Gerakan Massa sehingga ia menjadi organisasi kemasyarakatan (Ormas). Dengan demikian, maka KOSGORO bagaikan uang dengan dua sisi, yakni sebagai Gerakan Massa dan sebagai Gerakan Koperasi, dengan dua pengertian yakni : KOSGORO sebagai Koperasi Serbausaha Gotong Royong dan KOSGORO sebagai Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong.
  7. Tahun 1967, Mas Isman mengakhiri masa tugasnya sebagai Duta Besar RI di Cairo Mesir dan mendapat tugas baru di Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta. Dengan tugasnya di dalam negeri, maka perhatian bagi pengembangan KOSGORO dapat beliau laksanakan secara penuh. Mencermati perkembanagan KOSGORO terkait perkembangan bangsa secara keseluruhan, Mas Isman menerbitkan Perdoman Perjoangan KOSGORO pada tahun 1968. Dengan pedoman itu, baik barisan kader maupun organisasi KOSGORO memiliki pemandu dalam turut ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  8. Beberapa proyek kegiatan KOSGORO oleh Mas Isman secara bertahap di benahi. Antara lain, suratkabar Harian Gotong Royong yang dipimpin oleh Budayawan Iwan Simatupang, sejak 1968 diganti namanya menjadi Warta Harian dan Warta Minggu. Manajemen suratkabar ini kemudian diperkuat oleh Suratman (Almarhum, adik Mas Isman) dan beberapa tokoh lain. Dalam pembekalan bagi wartawan muda, telah diadakan “semacam perkaderan” tentang Pers dan ke-KOSGORO-an. Beberapa orang wartawan muda yang memperkuat media cetak ini antara lain : H. Azkarmin Zaini (sekarang Pemimpin Redaksi An TV), Panda Nababan (mantan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI), Wahyudi Mochtar, Sumartono, Rahadi Sutoyo, Yuyu Mandagi, Asbari Nurpatria Krisna, dll. Khusus ujntuk Warta Minggu, yang dipimpin Budayawan Betawi Firman Muntaco, dan  Djonharro (Kak Djon) sebagai Redaktur Muda-nya, yang membina Lembaran dan Klub Remaja Sanggar Beringin, yang juga berkembang secara Nasional dan menjadi salah satu sumber kader KOSGORO.
  9. Tanpa disadari, Sangar Beringin  yang berawal dari Lembaran Remaja di suratkabar Warta Minggu berkembang menjadi organisasi remaja yang tersebar secara Nasional. Beberapa kota di Jawa dan Sumatera, organisasi terbentuk dan berkembang dengan baik. Sanggar Beringin sebagai wadah : Persinggahan dan Persemayan  Remaja Tunas Bangsa. Di Redaksi Remaja Warta Minggu, tercatat penyair muda yang sekarang mencuat di blantika nasional dan pernah menyumbangkan karya nya antara Noorca Marendra, Yudistira Ardinugraha, Hendrawan  Nadesul, Saliban Sastra, Priyono Tjiptoherijanto (Prof. DR), Udhin dan puluhan penulis muda lainnya. Untuk membuktikan keberadaan Sanggar Beringin secara Nasional, pada bulan Juni 1968 berlangsung Ramanas (Ramah Tamah nasional) Sanggar Beringin yang di hadiri oleh utusan dari beberapa daerah seperti dari Surabaya, Malang, Ungaran, Yogyakarta, Bandung, Bogor. Tanjungkarang, Medan, Pekanbaru, dan lain lain.
  10. Sisi lain dari perkembangan kesempurnaan KOSGORO yang tidak saja sebagai Gerakan Koperasi, tapi juga sebagai Gerakan Massa, menunjukkan kekokohan bangunan organisasi dengan kehadiran tokoh-tokoh nasional yang memperkuat organisasi ini. Tercatat tokoh nasional dan Guru Besar UI, Prof. Dr. Isdmail Sunny, SH, MCL,  mantan diplomat Soedjoko Hudionoto, Bus Effendi, Djoko Suyono dan lain. Juga dalam periode itu mulai bergabung Drs. J. Imam Soedarwo, Buyung Tamin, DM. Sihite, Rudy Hutabarat  – dari kalangan Pergerakan Perburuhan. Dan tokoh-tokoh muda seperti Hikmatullah, H. Effendi Jusuf SH, Marzuki Achmad SH., Thomas Manurung, Yahman Saidah, Chandra Maruli Situmorang dan beberapa tokoh muda lainnya.

Konsolidasi Tahun 1978

Kelahiran Generasi Muda KOSGORO sebagai wadah baru ini disambut gembira oleh seluruh Keluarga Besar KOSGORO   seluruh Indonesia. Mas Isman selaku pimpinan KOSGORO mengambil sikap yang tegas dengan :

  1. Menetapkan Generasi Muda KOSGORO sebagai wadah baru pengintegrasian : Permuda KOSGORO, Gerakan Mahgasiswa KOSGORO, Gerakan Siswa KOSGORO dan Wadah Remaja SANGGAR BERINGIN.
  2. Mengaktifkan kembali seluruh slagorde KOSGORO secara nasional.
  3. Menyelenggarakan Mubes III KOSGORO pada bulan Juni 1978 di Semarang dengan kembali mengkonsolidasi KOSGORO secara Nasional.

Sejak Mubes Semarang itulah, KOSGORO kembali terkonsolidasi. Secara bertahap terbentuk kembali Gerakan Mahasiswa KOSGORO, Ikatan Sarjana KOSGORO, Wanita KOSGORO, Majelis Dakwah Ukhuwah Islamiyah, Lembaga Bantuan dan Pelayanan Hukum KOSGORO dan lain lain. Kelahiran kembali Gerakan Mahasiswa KOSGORO di awali dengan Deklarasi yang di motori para mahasiswa saai itu, antara lain : Achmad Zainuri, Rambe Karulzaman, Syamsul Bachri, Azhar Romli, Karzuli Jusuf, Haswan Yunas, Jusuf Djuhir dan para tokoh lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: